<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="236165">
 <titleInfo>
  <title>Bukan Berhala! Penghormatan Kepada Para Leluhur</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Jebadu, Alex</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Maumere</placeTerm>
  </place>
  <publisher>Penerbit Ledalero</publisher>
  <dateIssued>2009</dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>13,5 x 21 cm / 319 pg</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Amnesia kolektif menjadi salah satu persoalan bangsa Indonesia. Kita cepat lupa akan masa lalu kita. Tokoh yang melakukan kejahatan di masa lampau, dengan gampang diterima dan dirayakan kembali hanya karena dia membagi-bagi hadiah dan menjanjikan kemakmuran untuk satu masa depan yang tidak jelas. Orang tidak melihat kontradiksi masa lalu dengan kedermawanan sesaat serta isi janji masa depan. Sementara itu, seorang pejabat yang baik di masa lalu gampang dilupakan bersamaan dengan hilangnya dia dari panggung publik.&#13;
Di dalam kondisi seperti ini, apakah relevan kalau kita berbicara mengenai para leluhur dan memberikan pendasaran teologis bagi praktik penghormatan terhadap mereka?&#13;
Jawaban atas pertanyaan di atas berkaitan erat dengan konsekuensi yang dihadapi satu masyarakat ketika dia secara konsekuen tenggelam di dalam amnesia kolektifnya. Masyarakat seperti ini akan kehilangan jati dirinya. Ketercerabutan dari akar sejarah akan membuat satu masyarakat gampang diarahkan demi kepentingan sesaat para penguasa</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>Teologi Sosial Gereja</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Leluhur</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Kristianitas dan Kebudayaan</topic>
 </subject>
 <classification>261.21 / JEB / b</classification>
 <identifier type="isbn">9799789447817</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Ordo Karmel Indonesia Indonesian Carmelite Order Library</physicalLocation>
  <shelfLocator>I35421</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">I35421-C1</numerationAndChronology>
    <sublocation>My Library</sublocation>
    <shelfLocator>I35421</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>37.433.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>236165</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-01-08 14:28:13</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-01-15 11:05:30</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>