<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="22882">
 <titleInfo>
  <title>Atjeh</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Zentgraaff, Henri Carel</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Batavia</placeTerm>
  </place>
  <publisher>De Koninklijke Drukkerij De Unie</publisher>
  <dateIssued>1938</dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">bl</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Belanda</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>22,5 x 30 cm / 301 pg</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Tjut Meutia. Semua pasti sudah tahu, karena cukup banyak buku sejarah dan literatur yang telah mengulas sosok pahlawan nasional yang lahir tahun 1870 di Keureutoe Aceh Utara. Barangkali, banyak pula yang belum mengetahui pandangan seorang Sersan juru tulis Belanda terhadap sepak terjangnya.&#13;
&#13;
Pada kesempatan ini, tidak ada salahnya menelisik Tjut Meutia dari kaca mata musuhnya, Henri Carel Zentgraaff (H.C. Zentgraaff), Sersan juru tulis Belanda yang lahir pada tanggal 1 Oktober 1874 di Hontenisse Belanda. Dia memasuki dinas kemiliteran pada usia 20 tahun, dan ditugaskan ke Hindia Belanda (Indonesia) dengan pangkat Kopral Artileri. Setahun kemudian, dia ditugaskan ke Aceh ketika perang kolonial Belanda telah memasuki tahun ke-22. Pengalamannya selama mengikuti ekspedisi bersama pasukan kolonial di Aceh, ditulisnya dalam sebuah buku berjudul “Atjeh, Geschreven door en oud Atjehmen” yang dicetak pada tahun 1938. Kemudian, buku tersebut dialihbahasakan oleh Aboe Bakar pada tahun 1983  dengan judul Aceh.&#13;
&#13;
Dalam buku itu (halaman 151), Tjut Meutia digambarkan oleh H.C. Zentgraaff sebagai berikut: “Tjut Meutia bukan saja amat cantik parasnya tetapi iapun memiliki tubuh yang tampan dan menggairahkan. Dengan mengenakan pakaian adatnya yang indah-indah menurut kebiasaan wanita di daerahnya: dengan ‘silueue’ (seluar) Aceh sutera berwarna hitam, dengan baju yang dikancingi perhiasan-perhiasan emas didadanya serta tertutup ketat, dengan rambutnya yang hitam pekat dan dihiasai ‘ulee ceumara’ emas, dengan gelang kakinya yang melingkari pergelangan lunglai, wanita itu benar-benar seorang bidadari yang mempesona...</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>Sejarah Indonesia</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Aceh</topic>
 </subject>
 <classification>959.81 / ZEN / a</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Ordo Karmel Indonesia Indonesian Carmelite Order Library</physicalLocation>
  <shelfLocator>A11857</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">A11857-C1</numerationAndChronology>
    <sublocation>My Library</sublocation>
    <shelfLocator>A11857</shelfLocator>
   </copyInformation>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">A11857-C2</numerationAndChronology>
    <sublocation>My Library</sublocation>
    <shelfLocator>A11857</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>16.114..jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>22882</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2011-02-14 10:09:58</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-03-02 10:16:18</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>