<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="207278">
 <titleInfo>
  <title>Atas Nama Dendam! Wajah Narasi Film Laga Indonesia</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Wibowo, Paul Heru</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Hernowo</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Editor</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Yogyakarta</placeTerm>
  </place>
  <publisher>Excellent Group</publisher>
  <dateIssued>2019</dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>14,5 x 21 cm / 586 pg</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Film-film laga yang diproduksi pada masa Orde Baru cukup melimpah ruah. Sayangnya , film-film tersebut belum sepenuhnya direfleksikan sebagai sarana mimetik yang dapat menggambarkan situasi sosiologis dan psikologis masyarakat Indonesia yang sedang mengalami perubahan yang begitu cepat dari kultur agraris ke kultur urban, dari kultur lisan ke kultur audio-visual dan digital. Sejauh ini film-film laga hanya dipahami sebagai tontonan masyarakat kelas bawah yang membutuhkan eskapisme bagi agresi yang mereka represi, buka menjadi bagian dari sebuah selebrasi high culture yang bermakna.&#13;
Penulis buku ini mencoba untuk menelisik hubungan antara film laga sebagai teks kultural dengan praktik politik identitas yang dibangun rezim Orde Baru. Karena itu, konteks yang ingin direfleksikan terkait dengan bagaimana sebenarnya keberadaan film laga Indonesia pada masa Orde Baru. Apakah film laga Indonesia sekadar dimaknai sebagai tontonan komersial? Apakah film laga Indonesia sungguh merepresentasikan wawasan dunia tertentu yang terkait dengan kebijakan rust en orde yang ditelurkan Orde Baru sebagai penguasa pada waktu itu?</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>Pembuatan Film</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Film Laga</topic>
 </subject>
 <classification>791.43 / WIB / w</classification>
 <identifier type="isbn">9786239079505</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Ordo Karmel Indonesia Indonesian Carmelite Order Library</physicalLocation>
  <shelfLocator>I21992</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">I21992-C1</numerationAndChronology>
    <sublocation>My Library</sublocation>
    <shelfLocator>I21992</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>34.196..jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>207278</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2020-07-22 13:21:09</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2020-07-23 14:15:40</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>