<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="194078">
 <titleInfo>
  <title>Mengurai Bahasa Menyibak Budaya:</title>
  <subTitle>Bunga Rampai Linguistik, Puitika, Dan Pengajaran Bahasa</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Kadarisman, A. Effendi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Malang</placeTerm>
  </place>
  <publisher>UIN-Maliki Press</publisher>
  <dateIssued>2010</dateIssued>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Text</form>
  <extent>17 x 24 cm / 338 pg</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Apakah arti universalitas dan relativitas bahasa? Dalam linguistic masa-kini, universalitas bahasa lazim dikaitkan dengan teori Gramatika Semesta (Universal Grammar), yang ditumbuh kembangkan sejak akhir tahun 1950-an oleh pelopor Linguistik Generatif, Noam Chomsky. Sebaliknya, relativitas bahasa, yang sejak dasawarsa 1970-an muncul kembali sebagai reaksi terhadap paradigm Chomsyan yang terlalu formal, sering dikaitkan dengan pemikiran antropolog-bahasawan Edward Sapir. Adakah titik temu antara keduanya? Apakah implikasi masing-masing terhadap pengajaran bahasa kedua? Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini dipaparkan dalam buku ini. Di bidang puitika, dikupas kelebihan dan keterbatasan “puitika linguistik” Roman Jakobson, yang berambisi menaut-rapatkan dua disiplin ilmu; linguistik dan sastra. Kini, dengan maraknya gagasan local knowledge, puitikan telah berkembang pula menjadi etnopuitika, yang mencermati pentas sastra  bukan hanya dari aspek struktur keindahan bahasanya, melainkan juga makna sosiokulturalnya bagi budaya setempat. Apapula yang dapat disumbangkan oleh linguistic terhadap pengajaran bahasa kedua? Beberapa tulisan dalam buku ini masih percaya bahwa sejumlah ide klasik tetap relevan sampai kini. Pengajaran bahasa dengan pengetahuan linguistic yang memadai akan tahu bagaimana membantu pembelajaran mengatasi transfer errors, baik pada tingkat struktur maupun pada ranah kultur. Dengan merangkum aneka-ragam topik bahasan tersebut, buku Mengurai Bahasa, Menyibak Budaya ini hadir sebagai bunga rampai linguistik, puitika, dan pengajaran bahasa.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>Linguistik, Puitika</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Pengajaran Bahasa</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Ilmu Bahasa</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>Belajar dan Mengajar</topic>
 </subject>
 <classification>499.221 / KAD / m</classification>
 <identifier type="isbn">9786029583134</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>Perpustakaan Ordo Karmel Indonesia Indonesian Carmelite Order Library</physicalLocation>
  <shelfLocator>I32131</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">I32131-C1</numerationAndChronology>
    <sublocation>My Library</sublocation>
    <shelfLocator>I32131</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>ck.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>194078</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2011-06-16 17:37:54</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-05-10 12:45:38</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>